Kehamilan

Amalan dan Do’a Agar Diberikan Keturunan

Tidak ada amalan atau pun tindakan yang dikhususkan untuk program hamil. Saran dari uztad Ammi nur Baits adalah berdoa kepada Allah dengan doa-doa yang diucapkan para nabi, karena doa dari Nabi tentunya lebih mustajab daripada doa yang kita karang sendiri.

Beberapa doa-doa tersebut antara lain:

DOA NABI IBRAHIM ’ALAIHI SALAM

”Ya Allah, anugerahkan kepadaku anak yang sholeh.” (QS. As-Shaffat: 100)
Dengan doanya ini, Allah memberikan karunia anak yang soleh yang melanjutkan dakwah ayahnya, yaitu Nabi Ismail.

DOA NABI ZAKARIA

Ya Allah, anugerahkanlah kepadaku keturunan yang baik dari sisi-Mu. Sesungguhnya Engkau Dzat Yang Maha Mendengarkan doa. (QS. Ali Imran: 38)

Doa Nabi Zakariya cukup panjang, karena beliau menyebut segala kekurangan dirinya, sehingga beliau sangat membutuhkan anak, dan kasih sayang Allah kepada hamba-Nya yang selalu berdoa,

Zakariya Berdoa “Ya Tuhanku, Sesungguhnya tulangku telah lemah dan kepalaku telah ditumbuhi uban, dan aku belum pernah kecewa dalam berdoa kepada Engkau, Ya Tuhanku. Dan Sesungguhnya aku khawatir terhadap mawaliku (penerus) sepeninggalku, sedang isteriku adalah seorang yang mandul, Maka anugerahilah aku dari sisi Engkau seorang putera, yang akan mewarisi aku dan mewarisi sebahagian keluarga Ya’qub; dan Jadikanlah ia, Ya Tuhanku, seorang yang diridhai”.
(QS. Maryam: 4 – 6)

Ya Allah, jangan Engkau biarkan aku sendirian. Sementara Engkau adalah sebaik-baik Dzat yang mewarisi (Yang Maha Kekal).
(QS. al-Anbiya: 89)

Selain itu, saya sarankan memperbanyak istigfar. Hal tersebut saya ambil dari kisah aduan Hasan al basri Rahimahumullah saat memberikan solusi bagi permasalahan umat:

Imam al-Qurthubi menyebutkan dari Ibnu Shubaih, bahwasanya dia berkata: Ada seseorang yang mengadu kepada Hasan al-Bashri rahimahumullah, tentang musim paceklik. Lalu Hasan al-Bashri berkata, “Istighfarlah engkau kepada Allah.”

Ada lagi orang yang mengadu bahwa dia miskin. Hasan al-Bashri tetap menjawab, “Mintalah ampun kepada Allah.”

Pengadu berikutnya mengatakan, Do’akanlah saya agar dikaruniai anak.” Hasan al-Bashri tetap menjawab, “Mintalah ampunan kepada Allah.”

Kemudian ada lagi yang mengadu bahwa kebunnya kekeringan. Hasan al-Bashri tetap menjawab, “Mohonlah ampun kepada Allah.”

Melihat hal itu, Rabi’ bin Shubaih heran dan berkata pada Hasan Al-Bashri. “Tadi orang-orang berdatangan kepadamu mengadukan berbagai permasalahan, dan engkau memerintahkan mereka semua agar beristighfar, mengapa demikian?’

Hasan al-Bashri rahimahullah menjawab, “Aku tidak menjawab dari diriku pribadi, karena AllahSubhanahu wa Ta’ala telah mengatakan dalam firman-Nya:

“Lalu aku berkata kepada kaumku, ‘Hendaklah kalian mohon ampun kepada Tuhan kalian dari kekafiran dan dosa-dosa kalian. Tuhan kalian itu senantiasa Maha Pengampun. Allah menurunkan hujan dari langit secara terus menerus kepada kalian. Allah memberikan harta dan anak kepada kalian. Allah memberikan kebun-kebun dan sungai-sungai kepada kalian.’“ (Qs. Nuh :10-12)

Lalu seorang laki-laki bertanya pada Hasan al-Bashri, “Tidakkah seseorang di antara kita malu terhadap Tuhannya? Kita berbuat dosa lalu kita mohon ampun, lalu kita berbuat dosa lagi kemudian kita mohon ampun lagi, dan begitu seterusnya?”

Al-Hasan berkata kepada orang itu, “Setan ingin agar seorang di antara kalian berbuat seperti itu. Karena itu, kalian jangan meninggalkan istighfar untuk selama-lamanya.”

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Sungguh beruntung bagi orang yang mendapatkan dalam buku catatan amalnya, banyak istighfar.” (HR. Ibnu Majah)

Kapan saja kita dapat melisankan istigfar? Kita dapat membiasakan beristigfar disela-sela atau saat beraktivitas sehari-hari seperti:
– Mencuci Piring
– Menyapu
– Memasak
– Dalam Perjalanan, dll

Oleh: AMANDA KURNIASIH, S.Kep., Ners., M.Kep

Related posts

Leave a Comment

%d blogger menyukai ini: