Islamic Parenting

Fiqih Menyambut Kelahiran Bayi

Anak adalah anugerah terbesar yang Allah berikan kepada hambanya sebagai penerus dari keturunannya. Sekaligus dia adalah amanah dari Allah yang harus kita didik untuk taat pada Allah. Karenanya Rasulullah mengajarkan kepada kita beberapa sunnah yang kita harus lakukan untuk menyambut kehadirannya dimuka bumi ini. Diantara yang diajarkan Rasulullah untuk menyambut bayi adalah

1. Mencukur dan bersedekah

Mencukur rambut dan bersedekah seberat timbangan hasil cukur dari rambutnya adalah hal yang diajarkan Rasul kepada kita. Baik itu bayi laki-laki ataupun bayi perempuan. Hal ini berdasarkan hadits dari Ali bin Abi Thalib berkata Rasulullah saw : “ Rasul mengaqiqah Hasan dengan kambing,” Dia berkata: “ Wahai Fatimah cukurlah rambutnya dan bersedekalah dengan perak seberat timbangan  rambut yang dicukur tersebut. Maka berat timbangan rambutnya ketika itu satu dirham atau setengah dirham.” (HR. Turmudzi) .

Adapun waktu yang dianjurkan untuk mecukur rambut adalah pada hari aqiqah yaitu di hari ketujuh dari hari kelahirannya. Hal ini berdasarkan hadits dari Samrah bin Jundab bahwa Rasulullah berkata: “ Setiap anak yang lahir tergadai aqiqahnya yang disembelih pada hari ketujuh, dan pada hari itu ia diberi nama dan di gunduli rambutnya.” ( hadits shahih riwayat Ahmad, Abu Daud, Turmudzi, Nasa’i, Ibnu Majah, Baihaqi dan Hakim)

Di dalam hadits Abdullah bin Buraidah dia berkata: Aku mendengar Abi Buraidah berkata: “ Dahulu kami dimasa jahiliyah apabila salah seorang diantar kami mempunyai anak, ia menyembelih kambing dan melumuri kepalanya dengan darah kambing itu. Maka setelah Islam datang kami menyembelih kambing, mencukur (menggundul) kepala bayi dan melumurinya dengan minyak wangi.” ( HR. Abu Daud).

Hadits ini menunjukkan dianjurkan melumuri kepala si bayi dengan minyak wangi.

2. Tahnik

Dari Abu Musa ra berkata: “ Pernah dikaruniai kepadaku seorang anak laki-laki lalu aku membawanya kepada Rasulullah saw maka beliau memberinya nama Ibrahim dan mentahniknya dengan sebuah kurma.” (HR.Bukhari dan Muslim)

Ibnu Hajar al-Asqalani ketika menjelaskan hadits ini beliau menjelaskan apa itu tahnik. Tahnik adalah mengunyah sesuatu kemudian memasukkannya ke mulut bayi lalu menggosok-gosokkannya kelangit-langit mulut. Hal ini dilakukan dengan tujuan agar bayi terlatih dengan makanan dan menguatkan atasnya. Dan yang mesti dilakukan dari mentahnik hendaklah mulut bayi tersebut dibuka sehingga sesuatu yang telah dikunyah masuk ke dalam perutnya. Yang lebih utama mentahnikkan mereka dengan kurma basah, jika tidak ada kurma bisa diganti dengan sesuatu yang manis seperti madu ini lebih utama.

Imam Nawawi menjelaskan hadits ini adalah anjuran mentahnik anak yang baru lahir dan ini merupakan sunnah dengan ijma’. Hendaklah yang mentahnik adalah orang yang shaleh dari kalangan laki-laki atau wanita. Tahnik dilakukan dengan kurma dan ini mustahab tapi apabila ada yang mentahnik dengan selain kurma maka telah terjadi perbuatan tahnik. Sedang tahnik dengan kurma adalah lebih utama.

Adapun dilakukan tahnik ini ketika hari kelahiran bayi tersebut. Sebagaimana dijelaskan juga oleh Imam Nawawi.

3. Khitan

Khitan secara bahasa merupakan bentuk masdar dari fi’il madhi Khatana yang berarti memotong. Sementara  maknanya secara syari’i adalah memotong seluruh kulit yang menutup hasyahah (kepala zakar) kemaluan laki-laki  sehingga semua hasyafah terbuka. Sedangkan bagi wanita khitan adalah memotong bagian bawah kulit yang sisebut nawat yang berada dibagian atas faraj (kemaluan wanita).

Khitan adalah merupakan salah satu dari pada sunah fitrah. Khitan bagi laki-laki adalah wajib sementara untuk wanita hukumnya sunnah. Didalam hadits Bukhari dan Muslim Rasul berkata: “Fitrah itu ada lima: khitan, mencukur rambut kemaluan, mencabut bulu ketiak, memotong kuku dan memotong kumis.”

Dalil disyari’atkannya berkhitan adalah hadits Rasulullah, beliau bersabda: “ Buanglah darimu rambut kekufuran dan berkhitanlah.” (HR.Abu Daud). Selain juga hadits yang disebutkan diatas. Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abu Daud dari Ummu Atiyah beliau berkata: “Bahwasanya di Madinah ada seorang Wanita yang (pekerjaannya) mengkhitan wanita. Kemudian Rasulullah bersabda “Janganlah berlebihan didalam memotong, karena yang demikian itu lebih nikmat bagi wanita dan lebih disenangi suami”.

Kapan sebaiknya khitan dilakukan ?

Dalam masalah ini tidak terdapat hadits yang shahih yang menjelaskan kapan sebaiknya anak laki-laki di khitan. Imam Ibnu Qayyim mengatakan: “ Waktu khitan adalah  saat baligh karena pada saat itu waktu wajib baginya untuk melaksanakan ibadah yang tidak diwajibkan baginya sebelum baligh.” Jadi sesungguhnya tidak ada waktu khusus kapan sebaiknya seorang anak dikhitan. Tujuh hari setelah hari kelahirannya juga dibolehkan. Hanya dianjurkan untuk mengkhitan anak sebelum usia balighnya.

Lalu bagaimana hukumnya merayakan khitanan yang perbuatan ini seolah sudah membudaya di negara kita.  Ibnu taimiyah adalah ulama terdahulu yang membolehkan merayakan khitan. Begitu juga dengan Ibnu Qudamah beliau berpendapat, hukum undangan dalam rangka khitan dan undangan-undangan lainnya selain walimah adalah  dianjurkan sebab didalamnya ada pemberian makanan.

4. Pemberian nama

Dari Abi Musa ra berkata: “ Aku dikaruniai seorang anak, aku datang kepada Rasulullah saw, lalu Rasul menamakannya Ibrahim, lalu beliau mentahniknya dengan kurma dan mendoakan baginya keberkahan dan mengembalikannya kepadaku.”(HR.Bukhari)

Dari Anas bin Malik bahwa Ummu Sulaim melahirkan seorang anak dan dia berkata:”Berkata kepadaku Abu Thalhah (suaminya) : “Jaga bayi ini hingga datang kepada Rasul, maka aku membawakan kurma dan Rasul mengambilnya lalu mentahniknya dan menamakannya Ibrahim.” (HR.Bukhari)                                                                                                                                                                                          kapan sebaiknya anak diberikan namanya ?

Dari Amru bin Syu’aib dari bapaknya dari kakeknya bahwa Nabi saw memerintahkan untuk menamakan bayi yang lahir dihari ketujuhnya. Didalam hadits Samrah juga menjelaskan bahwa Nabi memerintahkan untuk mengaqiqah, mencukur dan menamakan bayi dihari ketujuh. Imam Nawawi menjelaskan bahwa yang menjadi sunnah menamakan bayi di hari ketujuh dari hari kelahirannya. Namun Imam Bukhari lebih menyukai memberi anak diwaktu lahirnya jika bayi tersebut belum diaqiqah.

Disunnahkan bagi orangtua untuk memberikan nama yang baik untuk anaknya. Karena Nabi saw bersabda:”Sesungguhnya kamu sekalian akan dipanggil pada hari kiamat dengan nama-nama kamu dan nama-nama bapak kamu oleh karena itu baguskanlah nama-nama kamu.”(HR.Abu Daud). Adapun nama yang baik berdasarkan sabda Rasulullah: “Sesungguhnya nama yang paling disukai Allah dari nama-nama kamu adalah Abdullah dan Abdurrahman.” (HR.Muslim)

Didalam hadits lain Rasul memakruhkan memberi nama dengan nama-nama tersebut dalam hadits ini. Dari Samrah bin Jundab dari Nabi bersabda: “Janganlah kamu menamakan anakmu dengan nama Yassar (mudah), Rabah ( untung),Najih ( berjaya) dan Aflah (menang) karena sesungguhnya jika kamu bertanya seseorang, apakah ada disana yasar,rabah dsb? Lalu ia menjawab: tidak ada. Sesungguhnya nama-nama itu hanya empat. Maka jangan kamu menambahnya (HR.Muslim)

Di hadits berikut ini juga dijelaskan haram hukumnya memberikan nama kepada anak dengan nama Malikul Amlak (raja bagi segala raja). Dari Abu Hurairah Rasul bersabda: “Laki-laki yang paling dimurkai oleh Allah pada hari kiamat dan paling hina ialah laki-laki yang diberi nama Malikul Amlak karena hakekatnya tiada raja melainkan Allah “. (HR.Muslim)

5. Aqiqah

Definisi aqiqah secara syari’i adalah hewan yang disembelih sebagai wujud rasa syukur atas karunia Allah atas lahirnya seorang anak baik laki-laki atau perempuan. Pada hadits sebelumnya disebutkan dihari ketujuh disunnahkan memberi nama dan mengaqiqah bayinya. Dan dihadits yang lain juga Rasul bersabda: “Barang siapa diantara kamu ingin beribadah tentang anaknya hendaklah dilakukan aqiqah untuk anak laki-laki dua ekor kambing yang sama umurnya dan untuk anak wanita seekor kambing.”(HR.Abu Daud dan Nasa’i)

Ketika aqiqah disyaratkan jika aqiqah dengan kambing sempurna berusia satu tahun namun masuk dua tahun. Apabila itu adalah domba maka sempurna berusia enam bulan dan masuk tujuh bulan. Dalam syarat juga ditentukan bahwa tidak ada anggota badan hewan yang cacat. Dan dagingnya tidak boleh dijual

Lalu kapan sebaiknya aqiqah dilakukan. Berdasarkan pada hadits yang disebutkan diatas bahwa waktu yang dianjurkan adalah dihari ketujuh dari hari kelahiran bayi. Namun jika orang tua tidak memiliki kemampuan untuk mengaqiqahkannya pada hari tersebut maka diperbolehkan mengaqiqahkannya dihari keempat belas, duapuluh satu atau saat kapanpun ia memiliki kelapangan rizki.  Apabila aqiqah tidak dilakukan sampai anak mencapai usia baligh maka gugurlah  kewajiban aqiqah bagi orang tuanya. Maka anak yang belum diaqiqah sampai baligh boleh beraqiqah untuk dirinya sendiri dan boleh juga tidak melakukan aqiqah.

Oleh: Mimi Rahma Sari.Lc.M.A

Related posts

Leave a Comment

%d blogger menyukai ini: