fiqih
Fiqih

Menata Prioritas Ibadah

Kita sering asyik mengerjakan satu ibadah karena meras cocok dengan amal tersebut. Kita enjoy menunaikannya. Padahal, pada saat yang sama, ada amal lain yang lebih wajib. Hanya saja kita enggan mengerjakan.

Dalam Islam, seseorang hamba diarahkan untuk mengalahkan kecenderungan hatinya lalu memilih apa yang Allah cintai.

Ada tiga contoh yang bisa dipelajari. Yaitu tiga amal mulia yang orang yang mengerjakannya seharusnya memprioritaskan kewajiban lain.

Pertama, kisah dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim tentang Ahli ibadah bernama Juraij. Ketika Ahli ibadah di zaman Bani Israil itu sedang shalat sunnah, tiba-tiba mendengar panggilan sang ibu.

Hatinya bimbang, “Ya Allah, aku jawab panggilan itu atau meneruskan shalat?”

Walau ibunya memanggil tiga kali, Juraij memilih meneruskan shalat. Wal hasil, sang ibu mengutuk, kelak sebelum Juraij meninggal akan difitnah oleh wanita pelacur. Kutukan itupun terjadi. Di akhir hayatnya, Juraij dituduh menzinai perempuan dengan paksa. Biara tempat ia shalat dirobohkan. Bahkan, dirinya sempat menjadi amukan massa. Singkat cerita, Allah meyelamatkan Juraij dari fitnah tersebut.

Kita tidak menilai Juraij bersalah karena meneruskan shalat. Tapi dia salah menata prioritas dan tidak memilih kewajiban yang lebih penting. Yaitu menjawab panggilan ibu.

Kedua, kisah Mu’awiyah As Sulami yang menghadap Rasulullah.

“Aku ingin berjihad bersamamu. Dengan mengerjakan amal itu aku berharap mendapat ridha Allah dan pahala di akhirat nanti,” pintanya kepada Nabi.

“Apakah ibumu masih hidup?” tanya Rasulullah.

Ia menjawab, “ya.”

Rasulullah lantas menitahkan, “Pulanglah dan berbakti kepada ibumu.”

Mu’awiyah tidak putus asa. Ia kembali memohon kepada Nabi dan dijawab dengan perintah yang sama. Terakhir, ia maju ke hadapan Nabi dan kembali meminta diizinkan berjihad. Kali ini Rasulullah memberi ketegasan, “Tinggal dan berbaktilah kepada ibumu. Di sanalah jannahmu berada.”

Kisah itu terjadi dalam kondisi jihad ofensif yang hukumnya fardhu kifayah. Allah sangat mencintai amal yang berpahala besar ini. Apalagi jika dikerjakan bersama Rasulullah. Tapi, ada amal lain yang lebih Allah cintai untuk Muawiyah tunaikan. Yakni birrul walidain.

Ketiga, kisah Uwais al-Qarni. Penghulu para tabi’in ini melepaskan kesempatan menjadi sahabat Nabi meski hidup di masa Rasulullah. Ia terhalang untuk hijrah dan melayani Rasulullah karena harus merawat ibunya. Begitulah yang dikisahkan oleh Abu Nu’aim dalam Hilyatul Auliya.

Meski demikian, Rasulullah mendorong para sahabat agar meminta doa dari Uwais. Rasulullah bersabda, “Uwais memiliki ibu. Ia sangat berbakti kepada ibunya. Andai ia bersumpah atas nama Allah, Allah akan mengabulkannya. Jika kamu bisa memintanya mendoakan ampunan untukmu, lakukanlah.”

Uwais merindukan kota Madinah. Ia ingin melihat wajah Rasulullah dan mendengarkan sabda-sabdanya. Tapi, ia lebih memilih merawat ibu yang saat itu membutuhkannya. Ia mendahulukan kepentingan sang ibu daripada keinginan pribadi. Karena itulah ia beroleh keutamaan doa yang mustajab.

Apa benang merah dari ketiga kisah tersebut? Shalat sunnah, jihad ofensif dan hijrah termasuk amal paling utama. Tapi apa yang lebih prioritas dan dicintai Allah bagi ketiga orang tersebut?

Tiada lain berbakti kepada ibu.

Karena itu wahai para pemuda dan aktivis, sebelum anda memilih satu amal ketaatan dan meleburkan diri dalam amal jama’i bersama para ikhwanmu. Jika kamu masih mengabaikan hak-hak ibumu, dahulukan apa yang Allah cintai daripada apa yang kamu sukai.


Dr. Iyadh Qunaibi

Related posts

Leave a Comment

%d blogger menyukai ini: