ASI

Cara Menangani Bayi Mogok Menyusu (Nursing Strike)

Muslimah, banyak Ibu yang mengalami stress dan bingung ketika bayinya mogok menyusu (nursing strike) yang biasanya berakibat pada kenaikan berat badan (BB) yang tidak mencapai standar kenaikan BB minimal WHO.

Penyebab nursing strike bayi ini biasanya karena sakit, hal ini sangat wajar karena kita saja sebagai orang dewasa biasanya tidak nafsu makan saat sakit maupun beberapa saat setelah sakit. Tapi untuk bayi, apabila nursing strike nya berkepanjangan maka tidak boleh dibiarkan, harus segera dicari penyebabnya dengan cara penangannnya.

Selain menggali info mengenai manajemen laktasi yang dilakukan, penting juga untuk mencari info mengenai keseharian Ibu, bayi, kondisi di rumah dan faktor2 lain yang bisa berhubungan dengan kondisi psikologis Ibu dan bayi.

Ada juga lho bayi yang nursing strike misalnya karena patah hati, yang awalnya tidur bersama orang tuanya karena beberapa hal harus tidur sendiri atau baby sitternya. Bisa dibayangkan ya bagaimana kalau kita jadi bayi tersebut? Masa-masa yang masih sangat perlu dekat (skin to skin) dengan Ibu tapi malah jauh. Mencari penyebab nursing strike memang susah2 gampang, karena bayi belum bisa bicara verbally. Jadi relasi emosi yang baik sangat dibutuhkan, juga kerjasama antara Ibu & Ayah.

Kadang hal2 kecil bisa membuat bayi nursing strike seperti Ibu mengganti parfum, sabun dll, perubahan dalam rumah tangga seperti pindah rumah, Ibu dan Ayah yang bertengkar, Ibu yang stress, hingga penggunaan dot & empeng yang awalnya hanya sebabkan bingung puting tapi berkembang menjadi nursing strike, serta penyakit, kelainan anatomi oral bayi yang tidak ditangani segera.

Lalu apa yang harus kita lakukan?

Pertama jangan panik, stress karena bayi pun makin merasa tidak nyaman. Selama belum ditemukan penyebab nursing strikenya, tidak ada salahnya periksakan bayi ke dokter anak sambil jalan cari penyebab yang pengaruhi psikologis bayi, terutama di rumah.

Kemudian hal-hal ini silahkan coba lakukan :

1. Amankan produksi ASI Ibu.

ibu harus tetap memerah rutin setiap 2–3 jam & memberikannya pada bayi, baik melalui media gelas kecil, cup feeder maupun sendok. Ibu juga harus memantau tanda-tanda kecukupan
ASI pada bayi. Pantau berat badan bayi setiap minggu, untuk mencegah bayi gagal tumbuh (failure to thrive).

2. Skin to skin contact.

Lakukan pula kontak kulit dengan kulit untuk memacu insting alamiah bayi menyusu pada payudara, juga menyamankan, ibu dan bayi sehingga keduanya dapat rileks bersama dan membangun rasa percaya diri dan saling mencintai.

Selama di rumah, ibu yang sedang tidak melakukan
kontak kulit dengan bayi disarankan mengenakan pakaian yang mudah dibuka kapan pun bayi terlihat ingin menyusu.

3. Pedekate alias “pendekatan” lagi dengan bayi

Ibu juga meningkatkan kegiatan menyenangkan bersama bayi,
seperti mandi bersama, memijat bayi, membawa bayi jalan-jalan, bermain, dan mengajak berbicara. Beradalah selalu dekat dengan bayi dan libatkan bayi dalam kegiatan sehari-hari ibu.

Bila memungkinkan, ibu dapat tidur bersama bayi dengan
tetap mempertimbangkan keamanan bayi, atau ibu bisa berada sekamar dengan bayi dengan meletakkan boks bayi di dekat kasur ibu.

4. Hentikan pemakaian dot dan empeng (bila dipakai sebelum nursing strike)

5. Susui bayi saat setengah mengantuk

Tips lain masih banyak tapi cukup di atas dulu dengan ditutup saran pamungkas : Be Patient alias Sabar ya…

Entah berapa Ibu dengan nursing strike yang tidak sabar, yang selalu tanya saya : Berapa lama bisa berhenti nursing strikenya. Kasus ini bukan soal matematika dengan jawaban pasti karena melibatkan emosi, usaha, dan kondisi yang berbeda di setiap kasusnya. Jadi kuncinya hanya sabar, terus usaha dan pastikan kondisi emosi Ibu juga baik, jangan ada energi memaksa bayi untuk menyusu dan yang terakhir janganlah sungkan minta bantuan terutama kepada suami.

Related posts

Leave a Comment

%d blogger menyukai ini: