Al Qur'an

Tajwid dan Tartil

Allaah ﷻ saat memerintahkan kaum muslimin dalam kaitannya dengan bagaimana seharusnya membaca Al-Quran, menggunakan kata tartil. Sebagaimana firman-Nya:

…وَرَتِّلِ ٱلۡقُرۡءَانَ تَرۡتِيلًا

Dalam terjemahan versi Depag RI, penggalan ayat yang berasal dari QS. Al-Muzzammil ayat ke 4 ini diterjemahkan dengan “…dan bacalah Al-Quran dengan perlahan-lahan.”

Kata “perlahan-lahan” yang dikutip dalam terjemahan tersebut sangat multi tafsir. Karena sejatinya tidak setiap yang perlahan-lahan bermakna tartil, begitupun tidak setiap yang tartil mesti benar-benar perlahan-lahan. Apalagi apa yang tersurat dalam ayat tersebut hakikatnya bukanlah seperti apa yang diterjemahkan. Bila kita telah mempelajari kaidah Bahasa Arab, maka kita memahami bahwa penggalan ayat tersebut merupakan kalimat perintah yang tegas. Ketegasan tersebut tampak pada kata perintah yang diulang di akhir kalimatnya: warattilil qur-ana tartila. Maka, terjemahan yang menurut kami lebih tepat bagi penggalan ayat tersebut adalah “…dan tartilkanlah Al-Quran dengan benar-benar tartil.”

Dari sini, muncul pertanyaan, apa makna tartil sebenarnya?

Menurut Al-Imam ‘Ali bin Abi Thalib, berkaitan dengan kata “tartil” dalam ayat di atas bermakna:
ٱلتَرۡتِيلُ هُوَ تَجۡوِيدُ ٱلۡحُرُوفِ وَمَعۡرِفَةُ ٱلۡوُقُوفِ
“Tartil adalah mentajwidkan huruf dan mengetahui kaidah waqaf”.

Mentajwidkan huruf berarti membaca huruf sesuai dengan tempat keluarnya dengan disertai sifat hak dan mustahaknya. Hak huruf adalah sifat asli yang senantiasa menyertai huruf seperti hams, jahr, syiddah, rakhawah, qalqalah, dan sebagainya. Sedangkan mustahak huruf adalah sifat yang sewaktu-waktu menyertai huruf tertentu seperti ; sifat tafkhim (suara tebal), tarqiq (suara tipis), dan hukum-hukum yang terjadi dengan sebab tarkib (hubungan antar huruf).

Membaca dengan tajwid artinya membaca Al-Quran sebagaimana dahulu pertama kali diturunkan Allaah ﷻ kepada Nabi Muhammad ﷺ melalui Malaikat Jibril ‘alayhis salaam. Inilah yang dikehendaki oleh Allaah ﷻ dan yang lebih disukai-Nya. Dari Zaid bin Tsabit, dari Nabi ﷺ bersabda:

إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ أَنۡ يُقۡرَأَ هَذَا ٱلۡقُرۡءَانُ كَمَا أُنۡزِلَ
“Sesungguhnya Allaah menyukai Al-Quran ini dibaca sebagaimana Al-Quran diturunkan”. [HR. Ibnu Khuzaimah]

️Membaca sebagaimana Al-Quran diturunkan berarti membacanya dengan cara dan gaya membaca orang-orang Arab yang hidup pada masa nubuwwah (zaman kenabian), yakni para Sahabat radhiyallaahu ‘anhum. Karena mereka menyimak secara langsung bagaimana Rasuulullaah ﷺ membacakannya kepada mereka. Oleh karenanya, kita juga diperintahkan untuk membaca Al-Quran dengan dialek dan gaya bahasa orang-orang Arab yang fasih, yakni dialek dan gaya bahasa para Sahabat. Dan dari Hudzayfah bin Al-Yaman, Rasuulullaah ﷺ bersabda:

ٱقۡرَءُوۡاْ ٱلۡقُرۡءَانَ بِلُحُونِ ٱلۡعَرَبِ وَأصۡوَاتِهَا
“Bacalah Al-Quran dengan dialek orang Arab dan suara-suaranya yang fasih.” [HR. Ath-Thabrani, Al-Bayhaqi, Abu Ubaid, dan Ibnul Jawzi]

Ibnul Jawzi mengatakan dalam Al-‘Ilal Al-Mutanahiyah [1/ 111] bahwa sanad hadits ini tidak shahih dan Syaikh Al-Albani mendhaifkan hadits ini dalam Dha’iful Jaami’ [1067].

️Namun demikian, para Ulama Qurra menyepakati keharusan membaca Al-Quran dengan dialek Arab dan bahasanya yang paling fasih. Berkaitan dengan hal ini, Al-Imam Ibnul Jazariy berkata dalam Thayyibatun Nasyr:

مَعۡ حُسۡنِ صَوۡتٍ بِلُحُونِ ٱلۡعَرَبِ مُرَتَّلًا مُجَوَّدًا بِٱلۡعَرَبِي
“Dengan suara yang bagus dari dialek Arab, dengan tartil dan tajwid dengan bahasa Arab (yang fasih).”

️Lebih dari itu, Al-Imam Ibnul Jazariy juga menegaskan kewajiban mempraktikkan tajwid saat membaca Al-Quran dalam Muqaddimahnya. Beliau berkata,

وَٱلۡأَخۡذُ بِالتَّجۡوِيدِ حَتۡمٌ لَازِمُ مَن لَمۡ يُجَوِّدِ ٱلۡقُرَانَ آثِمُ
لِأَنَّهُ بِهِ ٱلۡإِلَٰهُ أَنۡزَلَا وَهَٰكَذَا مِنۡهُ إِلَيۡنَا وَصَلَا
“Dan mengamalkan tajwid hukumnya wajib secara mutlak bagi seluruh muslim mukallaf. Siapa saja orang yang sengaja tidak mengamalkan tajwid saat membaca Al-Quran, maka ia berdosa,
Karena bersama dengan tajwid Allaah menurunkan Al-Quran dan cara membacanya. Serta bersama dengan tajwid pula Al-Quran dan cara membacanya sampai kepada kita.”

Itulah makna Tajwidul Huruf.

️Sedangkan yang dimaksud ma’rifatul wuquf artinya memahami kapan dan di mana kita boleh atau harus berhenti, serta kapan dan di mana kita boleh atau harus memulai membaca Al-Quran. Sungguh, tidaklah seseorang memahami persoalan wuquf, kecuali bila ia memahami makna yang terkandung pada setiap ayat yang dibaca.

Oleh karena itu, kesempurnaan membaca Al-Quran dengan tartil hanya bisa diraih bila memenuhi kedua aspek yang saling berkaitan: pertama, membacanya dengan benar sesuai dengan kaidah-kaidah tajwid; kedua, memahami apa yang dibacanya, sehingga ia bisa mentadabburi isinya, meresapi makna yang terkandung di dalamnya, dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari. Bila kita belum bisa meraih keduanya secara bersamaan, maka minimal kita sudah berusaha untuk memenuhinya satu per satu. Semoga Allaah ﷻ memberikan kita kesabaran dan keistiqamahan sehingga bisa melalui semua proses ini hingga mencapai apa yang diharapkan. Aamiin.

Sumber: Online Tajwid

Related posts

Leave a Comment

%d blogger menyukai ini: