Fiqih

Thaharah: Jenis-Jenis Air

Taharah dapat diakukan dengan beberapa sarana, di antaranya adalah air. Berikut adalah jenis-jenis air yang ada di muka bumi.

1. Air Thahur (Suci)

Air Thahur adalah air yang sesuai dengan bentuk aslinya (belum berubah) yang keluar dari dalam tanah atau diturunkan dari langit. Allah Ta’ala berfirman:

“(Ingatlah), ketika Allah menjadikan kamu mengantuk sebagai suatu penenteraman daripada-Nya, dan Allah menurunkan kepadamu hujan dari langit untuk mensucikan kamu dengan hujan itu dan menghilangkan dari kamu gangguan-gangguan syaitan dan untuk menguatkan hatimu dan memperteguh dengannya telapak kaki(mu).” (Al-Anfal: 11)

Termasuk dalam jenis ini adalah air sungai, salju, embun dan air sumur meskipun berubah karena lamanya atau telah bercampur dengan barang yang suci. Dan air laut termasuk jenis ini berdasarkan sabda Nabi ketika ditanya tentang air laut. Beliau menjawab:

هُوَ الطَّهُوْرُ مَاؤُهُ، الحِلُّ مَيْتَتُهُ

“Airnya suci dan bangkainya halal.” (HR. Ahmad 2/237)

Air thahur adalah air yang suci dan mensucikan, yang dapat menghilangkan hadast dan najis.
Jika air ini bercampur dengan benda suci lainnya kemudian sifat-sifatnya berubah, maka ia tetap suci selama masih disebut air. Dalam hadist Ummu Hani’ disebutkan bahwa Rasulullah dan Maimunah mandi bersama dari satu bejana yang di dalamnya terdapat bekas adonan roti (HR. An-Nasa’i no. 242)

Jika air tersebut bercampur dengan benda lain yang juga suci sehingga namanya berubah (tidak lagi disebut air), maka air tersebut tidak bisa dipakai bersuci. Contoh: air yang bercampur dengan teh maka namanya menjadi air teh, dan air yang bercampur dengan mawar maka namanya menjadi air mawar. Kedua jenis air ini tidak bisa dipakai bersuci.

2. Air Najis
Yang dimaksud adalah air yang telah bercampur dengan najis dan sifatnya berubah.

Beberapa hal yang berkaitan dengan hukum air

1. Air yang menetes dari Anggota Wudhu (Air Bekas Wudhu)

Air ini masih dianggap suci dan mensucikan selama bau, warna dan rasanya tidak berubah karena tercampur najis. Dalilnya adalah hadist yang mengisahkan para sahabat yang saling berebut mendapatkan bekas air wudhu Nabi dalam HR Al Bukhari no. 189
Dalam Shahih al-Bukhari disebutkan bahwa Nabi mandi bersama isterinya dalam satu bejana (HR. Al-Bukhari no. 264)

2. Kesucian air tidak bisa dihilangkan dengan keraguan karena hukum asalnya adalah suci.

Jika timbul keraguan maka kembalilah kepada keyakinan bahwa air itu suci. Jika seseorang tidak yakin apakah air yang ada di hadapannya itu suci atau najis, maka manurut kesepakatan ulama, ia harus berwudhu dengan air tersebut.

sumber: Kitab Fiqhus Sunnah Lin Nisa’ Wama Yajibu an Ta’rifahu Kullu Muslimatin min Ahkam

Related posts

Leave a Comment

%d blogger menyukai ini: