Fiqih

Thaharah: Macam-Macam Najis dan Dalilnya

1 & 2. Kotoran dan Kencing Manusia

Dalil najisnya kotoran adalah sabda Nabi

إِذَاوَطِئَ أَحَدُكُمْ بِنَعْلِهِ اْلأَذَى فَإِنَّ التُّرَابَ لَهُ طَهُوْرٌ

“Jika salah seorang dari kalian menginjak kotoran dengan sandalnya, maka tanah menjadi pensuci baginya.” (HR. Abu Dawud no. 381)

Dan, dalil najisnya kencing adalah hadist Anas bin Malik tentang seorang Badui yang kencing di masjid lalu sebagian sahabat berdiri untuk mencegahnya. Maka Nabi bersabda, “Biarkan saja, jangan kalian menyuruhnya berhenti!” Anas berkata, “Setelah selesai, Nabi meminta seember air lalu menyiramkannya ke tanah bekas kencing tersebut.” (HR. Al-Bukhari no. 6025)

Selain itu, banyak hadist yang menjelaskan najisnya kotoran dan kencing manusia. Di antaranya hadist-hadist yang memerintahkan berwudhu setelah buang air besar dan buang air kecil.

3 & 4. Madzi dan Wadi

a. Madzi

Cairan lembut dan lengket yang keluar ketika syahwat memuncak; di saat bercumbu, mengingat, atau adanya keinginan untuk bercampur (dengan suami atau isteri), tidak sampai memancar, tidak membuat capek (lelah), bahkan terkadang keluarnya tidak terasa, terjadi pada laki-laki maupun wanita, tetapi lebih sering terjadi pada wanita (lihat Fathul Bari 1/379). Hukumnya najis menurut kesepakatan ulama (dalam Al Majmu’ An-Nawawi 2/6). Oleh karena itu, Nabi memerintahkan untuk mencuci fajri (kemaluan) setelah keluarnya madzi.

Dalam Shahihain disebutkan bahwa Nabi bersabda kepada orang yang bertanya tentang madzi, “Hendaklah ia mencuci kemaluannya, kemudian berwudhu.” (HR. Bukhari no. 269)

b. Wadi

Cairan berwarna putih dan kental yang keluar setelah kencing. Hukumnya najis menurut kesepakatan ulama.

5. Darah Haid

Dalam Shahihain, Asma’ binti Abu Bakar berkata, “Seorang wanita mendatangi Nabi lalu bertanya, ‘Wahai Rasulullah, pakaian salah seorang dari kami terkena darah haid, apa yang mesti ia lakukan?’ Nabi menjawab, ‘Gosoklah, keriklah (dengan ujung jari) sambil menyiramnya dengan air, setelah itu pakailah untuk shalat.'”

Perintah mencuci pakaiannya ini menunjukkan najisnya darah haid.

Adapun darah secara mutlak; seperti darah yang mengalir dari manusia atau hewan yang dagingnya dimakan, maka telah dinukil dari banyak ulama tentang najisnya darah menurut ijma’. Jika ternyata memang ada ijma’ maka kita berpendapat najisnya darah tersebut tanpa melihat pendapat ulama belakangan beserta dalil yang menyatakannya suci. Tetapi jika tidak ada ijma’ maka kembalikanlah kepada hukum asalnya, yaitu suci. Wallahu a’lam.

6. Kotoran Hewan yang Dagingnya Tidak Boleh Dimakan

Dari Abdullah, ia berkata, “Suatu ketika Nabi bermaksud buang hajat. Lalu beliau bersabda: ‘Ambilkan untukku tiga batu. ‘Lalu aku hanya mendapatkan dua batu dan satu kotoran keledai. Beliau mengambil dua batu dan membuang kotoran tersebut sambil bersabda, ‘Kotoran hewan ini najis.'” (HR. Al-Bukhari)

Hal ini menunjukkan bahwa kotoran hewan yang dagingnya tidak boleh dimakan adalah najis. Adapun hewan yang boleh dimakan, jika kebanyakan dari makanannya bersumber dari zat yang tidak najis maka air kencing, kotoran, air liur, susu dan lain-lain yang berasal darinya adalah suci.

7. Air Liur Anjing

Nabi bersabda:

طَهُوْرُإِنَاءِأَحَدِكُمْ إِذَاوَلَغَ فِيْهِ الْكَلْبُ أَنْ يَغْسِلَهُ سَبْعَ مَرَّاتٍ أُولَاهُنَّ بِالتُّرَابِ

“Bersihkanlah bejana salah seorang di antara kalian jika anjing menjilatnya dengan mencucinya tiga kali, salah satunya dengan tanah.” (HR. Muslim)

Hadist ini menunjukkan bahwa air liau anjing itu najis

Adapun seluruh angvota badan dan bulunya kecuali mulut, maka hukumnya suci. Imam Al-Bukhari meriwayatkan sebuah hadist secara mu’allaq (hadist yang terputus dari awal sanadnya seorang rawi atau lebih) dan Abu Dawud meriwayatkannya secara maushul (hadist yang sanadnya bersambung sampai kepada Nabi atau kepada sahabat tanpa terputus) dengan sanad yang shahih dari Ibnu Umar ia berkata, “Di Zaman Rasulullah, aku pernah tidur di masjid. Ketika itu, anjing keluar masuk masjid dan para sahabat tidak menyiram bekas-bekasnya.” Hanya saja para sahabat menyiram bekas tempat duduk anjing tersebut, berdasarkan hadist yang diriwayatkan dari Maimunah, ia berkata, “Di rumahku ada anak anjing. Maka Nabi mengeluarkannya kemudian beliau memercikkan air pada bekas tempat anak anjing tersebut.” (HR. An-Nasa’i dengan sanad yang shahih)

8. Daging Babi

Daging babi adalah najis menurut kesepakatan ulama. Mereka berdalil dengan firman Allah Ta’ala:

“Katakanlah: ‘Tidaklah aku peroleh dalam wahyu yang diwahyukan kepadaku, sesuatu yang diharamkan bagi orang yang hendak memakannya, kecuali kalau makanan itu bangkai, atau darah yang mengalir yang disembelih atas nama selain Allah. Barang siapa yang dalam keadaan terpaksa, sedang dia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka sesungguhnya Tuhanmu Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Al-An’am: 145)

Tidak ada perselisihan di anatara para ulama tentang najis dan haramnya daging babi, juga lemak dan seluruh bagian tubuhnya.

9. Bangkai

Bangkai adalah semua hewan yang mati secara wajar, tanpa disembelih dengan cara yang disyariatkan. Hukumnya najis menurut ijma’ berdasarkan sabda Nabi:

إِذَادُبِغَ الإِهَابُ فَقَدْطَهُرَ

“Jika kulit bangkai telah disamak, maka hukumnya menjadi suci.” (HR. Muslim)

Ada beberapa hal yang dikecualikan:

Pertama, bangkai ikan dan belalang. Keduanya suci berdasarkan perkataan Ibnu ‘Umar, “Dihalalkan bagi kami dua bangkai dan dua darah. Dua bangkai itu adalah ikan dan belalang sedangkan dua darah itu adalah hati dan limpa.” (HR. Ahmad dengan sanad yang shahih. Lihat Silsilah Ash Shahihah no. 1118 -riwayatnya ini marfu’).

Kedua, bangkai hewan yang tidak memiliki darah; seperti lalat, lebah, semut, kutu dan sejenisnya. Hal ini berdasarkan sabda Nabi:

إِذَاوَقَعَ الذُّبَابُ فِيْ إِنَاءِ أَحَدِكُمْ فَلْيَغْمِسْهُ كُلَّهُ ثُمَّ لِيَطْرَحْهُ فَإِنَّ فِيْ أَحَدِ جَنَاحَيْهِ دَاءًوَفِيْ الآخَرِشِفَاءً

“Jika seekor lalat jatuh ke dalam wadah salah seorang dari kalian, hendaklah dia menenggelamkan seluruhnya kemudian membuangnya, karena pada salah satu sayapnya terdapat penyakit dan pada satu sayap lainnya terdapat penawarnya.” (HR. Al-Bukhari)

Ketiga, tulang, tanduk, kuku, rambut dan bulu bangkai adalah suci. Imam Al-Bukhari meriwayatkan secara mu’allaq dalam Shahihnya (1/342): Az-Zuhri berkata, (lihat kitab Majmu’ al-Fatawa karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah) “Tentang masalah tulang bangkai seperti gajah dan lain-lain, saya menjumpai seorang ulama menyisir rambutnya dengan tulang tersebut dan meminyaki rambutnya. Mereka menganggapnya tidak mengapa.”

Hammad berkata, “Tidak mengapa dengan bulu bangkai.”

10. Bekas Minum Binatang Buas yang Dagingnya Tidak Dimakan

Dalil yang menunjukkan najisnya adalah sabda Nabi shallallaaahu ‘alaihi wasallam ketika beliau ditanya tentang air yang berada di tengah gurun, yang sering disinggahi binatang buas dan binatang melata untuk minum darinya. Maka Nabi menjawab:

إِذَاكَانَ المَاءُقُلَّتَيْنِ لَمْ يَحْمِل الْخَبَثَ

“Jika kadar air ini mencapai dua kullah, maka tidak mengandung najis.” (HR. Abu Dawud no. 63)

Adapun bekas minum kucing dan hewan yang lebih kecil darinya, maka hukumnya suci berdasarkan sabda Nabi:

إِنَّمَا لَيْسَتْ بِنَجَسٍ إِنَّهَا مِنَ الطَّوَّافِيْنَ عَلَيْكُمْ وَالطَّوَّافَاتِ

“Sesungguhnya kucing tidaklah najis, ia adalah hewan yang hidup di tengah kalian.” (HR. Ahmad 5/303)

Sebagian ulama menyebutkan contoh najis lainnya dalam kitab-kitab fiqih dan furu; seperti muntah, nanah, khamr dan masih banyak lagi. Akan tetapi tidak ada dalil shahih yang mendukung pendapat ini. Dengan demikian kita kembalikan kepada hukum asalnya, yaitu suci. Wallahu a’lam.

sumber: Kitab Fiqhus Sunnah Lin Nisa’ Wama Yajibu an Ta’rifahu Kullu Muslimatin min Ahkam

Related posts

Leave a Comment

%d blogger menyukai ini: