ASI

Happybreastfeading

Tantangan tersulit konseling menyusui adalah membuka kran oksitosin & serotonin supaya ibu merasakan happy breastfeeding.. sejatinya ibu butuh kewarasan supaya sanggup menekan rasa was-was, lelah, nyeri, kurang pede dst.. tapi anehnya, kadang makin keras usaha ibu berbahagia justru rasanya makin sedih & terpuruk.. kok bisa?

Karena bahagia itu sulit direkayasa.. kuncinya cuma hati yang tersenyum, enjoy tidak menghakimi diri sendiri & orang lain.. nrimo ing pandum, sareh, cekap sakmadya = nyantai, sabar, turunkan ekspetasi yang muluk tak terjangkau

Ini bukan teori belaka.. dari catatan sesi konseling (yg baru sekelumit 10 tahunan), saya mengamati ibu-ibu dengan ASI yang berlimpah tampak lebih legowo, bereaksi wajar terhadap perubahan ritme sehari-hari (ngrawat bayi = banyak kejutan di luar rencana).. mereka semeleh memberi kesempatan tubuh & pikirannya menikmati & memaafkan kenyataan yang tak seindah harapan.. saya lihat usaha para suami juga istimewa: selama sesi konseling masih tebar candaan – biar isteri berkurang senewennya, menyengaja beri kontak fisik (sentuhan ‘dont worry babe YNWA’ itu ampuh lho, makasih ayah!), dengan sadar jadi member FPI = Front Pembela Isteri menghalau pengaruh/komen sinis yang bikin galau

Karena itu ada saja ibu yang tetap resah meski sudah safari konseling pindah-pindah.. ketemu pakar laktasi termahal sekalipun, selama mindset belum dikondisikan ‘nikmati & syukuri’ bakal terus ada beban penghambat oksitosin beraksi.. andai ada cintameter yang bisa ngukur kadar hormon bahagia ya hehe..

Sumber: dr. Wiryani Pambudi, SpA

#busuimestibahagia

Related posts

Leave a Comment

%d blogger menyukai ini: