Islamic Parenting

Pengasuhan di Dua Tahun Pertama Usia Anak

Pengasuhan di dua tahun pertama usia anak. Mengapa topik ini penting? karena banyak kasus yang dialami seseorang di masa dewasa, ternyata berakar dari masalah di dua tahun pertama hidupnya.

Dua tahun pertama hidupnya adalah momenawal terbentuknya “basic trust“, yaitu rasa aman dan kepercayaan dasar terhadap diri sendiri, yang diduga dari rasa percaya pada ibu, orang-orang terdekat dan lingkungan.

Basict trust yang terbentuk pada usia 2 tahun pertama merupakan kebutuhan dasar tiap manusia dan modal dasar untuk mmbangun kepribadian diri anak di tahap perkembangan selanjutnya.

Pada usia tahun pertama, terjadi proses myelinisasi (penguatan sambungan antar sel otak) di sistem limbik (pusat emosi), yang akan berperan dalam dan pengenalan emosi dan respon emosi sesaat.

Pada dua tahun pertama juga terjadi penguatan batang otak yang mengatur pelepasan hormon adrenalin. Hormon adrenalin adalah hormon yang menggerakkan tubuh untuk bergerak cepat saat ada bahaya, entah dengan cara kabur atau melawan.

Jika pada dua tahun pertama anak terlalu sering dalam kondisi stres/tidak nyaman atau tidak terpenuhi kebutuhannya, sistem limbik tidak sempurna berkembang dan batang otak terlalu banyak menstimulus adrenalin. Akibatnya, anak reaktif merespon emosi, bahkan muncul perilaku agresif, impulsif, tantrum, dan ada kemungkinan berlanjut menjadi masalah saat anak sudah dewasa.

Maka penuhilah kebutuhan anak pada dua tahun pertamanya

Kebutuhan anak dua tahun pertama:

Kebutuhan Fisik:

  • Makan minum sehat bergizi (ASI Ekslusif dan M-PASI mulai di usia enam bulan)
  • Waktu tidur yang cukup
  • Kesehatan terjaga
  • Stimulasi semua sistem indera agar perkembangannya sesuai harapan (tepat waktu dan tidak boleh tertukar atau terlewat)

Kebutuhan Psikis:

  • Kelekatan dari interaksi yang penuh cinta selama menyusui dengan ibu atau dengan pengasuh pengganti
  • Rasa aman, harapan yang tersambut, bergantung, dan percaya diri pada ibu, penggasuh penganti dan orang sekitar.

Yang perlu orang tua lakukan:

  • Menyusui tidak sekedar memberi ASI, tapi juga menunjukkan kehadiran dan pengakuan kita atas diri si bayi dan perasaannya. Jika sesekali saat menyusui, kita ada kebutuhan mendesak atau ada aktivitas lain, hendaklah kita minta izin padanya sebelum berpaling agar anak tidak merasa dirinya diabaikan.
  • Penuhi kebutuhan kelekatan dengan sentuhan lembut, belaian, ucapaan dan sapaan sayang, menyapa perasaan, dan mendoakan kebaikan untuk ananda sehingga terbentuk rasa bergantung.
  • Pastikan ada konsisten dan kontinuitas dalam kehidupan anak, seperti jadwal makan dan tidur rutin sehingga terbentuk jam biologis, termasuk konsistensi orang-orang yang mengasuh. Berganti-ganti pengasuh dalam periode yang cepat membuat anak kurang nyaman karena ia mengalami pola perilaku yang berbeda-beda.
  • Berikan investasi emosi positif pada anak. Otak anak seperti spons yang menyerap apa saja. Walau hanya menyaksikan kakaknya dimarahi atau mendengar suara tontonan kekerasan, hal itu tetap menjadi investasi emosi negatif bagi anak karena ia tidak paham hal itu tidak berkaitan dengan dirinya serta belum memiliki kemampuan untuk memilah informasi yang penting disimpan.
  • Pahami perasaan dan kebutuhan anak dengan mengenali pesan tersirat yang disampaikan bayi lewat tangisan, jeritan, tendangan, dan bahasa tubuh lain yang ditampilkan. Lalu namai perasaannya.
  • Tidak terlalu lama membiarkan anak menangis dan mengalami kecemasannya. Jika bayi kita menangis, bantu ia menghadapi emosinya dengan pelukan, belaian, dan kata-kata empatik serta menerima perasaan.
  • Sampaikan kata-kata kita dengan tindakan positif. seperti: “Bunda senang sekali, adek sudah sabar menunggu Bunda ambilkan handuk, dingin ya?”
  • Bantu anak beradaptasi dengan melakukan debriefing (pengkondisian) sebelum anak menghadapi suatu kondisi. Pahami keterbatasan anak kita dan bantu ia mengatasinya. Contoh: “Sebelum ke dokter katakan padanya bahwa kita akan ke dokter, dokter akan menyentuh tubuhnya untuk diperiksa, ia akan disunti dan terasa sedikit sakit, nanti bunda akan temani terus supaya ia tetap tenang.”

Jika kebutuhan (rasa diterima dan rasa berharga) ini terlanjur tidak terpenhi di dua tahun pertama, bayar hutang! Namun bentuknya sesuai usia. Jika kita menyadari diri kita tumbuh tanpa attachment yang cukup, kita bisa menterapi diri sendiri dengan bicara pada innerchild kita. Ajak innerchild kita yang marah dan terbuka untuk memaafkan, mohn ampunkan, ikhlaskan, dan selalu bersyukur terhadap takdir Allah. Pastikan diri kita cukup puas dengan masa lalu dan nyaman dengan masa kini kita, karena muncratan emosi yang belum selesai di masa lalu dapat terlempar melukai jiwa anak kita.

Oleh: Perwitasari, Psi

Related posts

Leave a Comment

%d blogger menyukai ini: