MP-ASI

Cegah Stunting dengan Metode Pemberian MP-ASI yang Tepat

Masalah zaman now

Awalnya, saya dan suami sempat kebingungan mengenai persoalan MP-ASI (Makanan Pendamping ASI) untuk anak pertama kami. Ternyata, hal ini dialami juga oleh banyak pasangan muda yang baru punya momongan. Mulai dari kapan waktu yang tepat memberikan MP-ASI, apa saja menunya, dan bagaimana cara pemberiannya.

Apakah hal ini penting? Penting sekali, Moms. Ketidakpedulian kita pada hal ini bisa memicu persoalan serius terhadap tumbuh kembang si kecil, terutama di 1000 hari pertama kehidupannya. Dan seperti apa anak kita saat dewasa nanti, tergantung seperti apa kita mengasuh dan mendidiknya di waktu kecil.

Jadi, ada apa di 1000 hari pertama?

Periode 1000 hari pertama kehidupan (HPK), dimulai saat masih janin dalam kandungan (270 hari) hingga anak berusia dua tahun (730 hari). Menteri Kesehatan RI (2012)[1] menyebut periode ini sebagai window of opportunities dan golden period (periode emas) yang didasarkan pada kenyataan bahwa di rentang waktu inilah terjadi proses tumbuh kembang yang sangat cepat dan tidak terjadi pada kelompok usia lain. Perkembangan sel-sel otak manusia pada masa tersebut sangat menentukan. Sehingga apabila terjadi gangguan, dampak yang ditimbulkan bisa bersifat permanen dan irreversible (tidak dapat diperbaiki), salah satu dampaknya adalah stunting.

Apa itu stunting?

Stunting (kerdil) adalah gagal tumbuh pada anak akibat kekurangan asupan gizi dalam jangka waktu lama, sejak masih dalam kandungan (janin) hingga anak berusia dua tahun. Bayi yang mengalami stunting tidak hanya memiliki postur tubuh lebih pendek dari anak normal seusianya, namun juga memiliki tingkat kecerdasan yang tidak maksimal, rentan terhadap penyakit, dan di masa depan beresiko memiliki tingkat produktivitas yang rendah.

Faktanya, stunting bukan hanya masalah keluarga miskin. Data Riset Kesehatan Dasar 2013 dari Kemenkes[2] menyebutkan sekitar 29% anak stunting berasal dari keluarga kaya. Artinya, stunting tak hanya disebabkan oleh asupan gizi yang kurang –yang menjadi persoalan utama keluarga tidak mampu-, melainkan juga kesalahan pola asuh -yang bisa terjadi di keluarga mampu-, seperti gagal dalam pemberian ASI ekslusif dan tidak tepat dalam memilih metode pemberian MP-ASI.

Lalu, bagaimana metode pemberian MP-ASI yang tepat agar anak terhindar dari stunting?

Pertama, kita harus tahu waktu yang tepat untuk mulai memberikan MP-ASI

Sebagian masyarakat, terutama yang berada di desa, masih menggunakan informasi turun-temurun terkait pemberian MP-ASI. Dari pengalaman kami, sebagian kerabat di kampung menyarankan agar kami segera memberikan MP-ASI (berupa pisang penyet atau puree) dan air putih untuk bayi kami yang masih berusia 4 bulan. Informasi ini tak langsung kami sanggupi sebelum bertanya ke tenaga medis dan menggali beberapa referensi terkait. Dan kami dapati bahwa MP-ASI baru diberikan di usia 6 bulan berdasarkan beberapa alasan berikut:

Pada umumnya bayi berusia 6 bulan sudah siap makan dengan munculnya tanda-tanda seperti: menunjukkan ketertarikan ketika melihat orang lain makan, mencoba menggapai makanan, senang memasukkan benda-benda ke mulutnya, dsb. Nah, kita sebagai orang tua tidak perlu terburu-buru jika beberapa tanda tersebut sudah terlihat namun usianya masih di bawah 6 bulan apalagi berat badannya masih naik dengan baik dan tidak mengalami kesulitan dalam menyusu.

Kebutuhan energi bayi mulai usia 6 bulan sudah tidak dapat dicukupi hanya dengan pemberian ASI hingga usia dua tahun. Jika bayi terlambat diberi MP-ASI, akan menyebabkan bayi kurang mendapatkan nutrisi yang dibutuhkan tubuhnya, tumbuh kembangnya akan lambat (stunting) serta malnutrisi.

Dari gambar di bawah, terlihat bahwa sejak usia 6 bulan energi yang ada pada ASI hanya mencukupi 70% kebutuhan anak, sehingga 30%-nya harus dipenuhi lewat pemberian MP-ASI. Sejak usia 9 bulan, energi yang tercukupi oleh ASI hanya 50%, sedangkan di atas setahun, kebutuhan energi yang tercukupi dari ASI hanya 30%. Kebutuhan zat besi pun mulai tidak tercukupi hanya dari ASI saja sejak usia 6 bulan.

 

Kedua, memilih metode yang tepat dalam memberikan MP-ASI

Dalam pemilihan metode MP-ASI, hendaknya kita pilih metode terbaik dan teruji secara ilmiah dapat memenuhi kebutuhan energi dan nutrisi bayi serta tidak asal ikut saran di forum-forum media sosial. Dengan begitu kita dapat memperoleh hasil optimal dari pemberian MP-ASI kepada anak kita dan terhindar dari bahaya pengaruh stunting.

Ikuti Panduan MP-ASI WHO

Panduan MP-ASI WHO dibuat untuk memudahkan dan mendekatkan anak pada menu keluarga yang kaya gizi dan kalori sejak dini agar dapat mendukung pertumbuhan anak dengan baik. Komposisi empat bintang (mengandung karbohidrat, protein hewani, protein nabati dan makronutrien) dianjurkan ada di setiap waktu makan, sebab tidak ada makanan sempurna yang memenuhi semua kebutuhan nutrisi anak. Hal ini bertujuan agar anak mendapatkan nutrisi lengkap dan memperkaya stimulus indra perasa bagi perkembangan otaknya.

Metode ini bertolak belakang dengan metode yang biasa ditemukan di media sosial yang menyarankan untuk memulai MP-ASI dengan menu tunggal dari sayuran dan buah-buahan (food combining). Pada metode food combining, asam amino dan zat besi yang diperlukan untuk tumbuh kembang anak tidak tersedia melalui sayur dan buah-buahan sehingga resiko anak terkena stunting semakin besar.

Ada juga metode BLW (Baby Led Weaning) yang banyak digunakan oleh orang tua di Indonesia termasuk kalangan artis, meskipun tidak disarankan oleh WHO. Pada metode BLW, bayi dibiarkan makan sendiri sejak awal dan tidak disuapi, berbeda dengan metode WHO yang berupa responsive feeding (disuapi). Selain itu WHO menyarankan agar makanan diberikan dengan tekstur berbeda tiap tingkatan usia sedangkan dalam metode BLW makanan diberikan berupa finger food dan tidak dalam bentuk bubur.

Di samping itu, menurut metode BLW, makanan yang diberikan pertama adalah potongan sayur-sayuran seperti wortel, kentang, dan brokoli. Menurut perhitungan yang telah dilakukan dr. Meta Hanindita Sp. A,[3] jika anak laki-laki berusia 6 bulan dan berat 7 kg diberikan MP-ASI BLW berupa potongan kentang kukus, brokoli kukus dan wortel kukus sebanyak 3 kali makan, energi dan zat besi yang diperoleh berturut-turut hanya 108,8 kkal dan 1,2 mg dari kebutuhan yang harusnya dipenuhi sebanyak 770 kkal untuk energi dan 11 mg/hari untuk zat besi. Dari sini, kita tahu energi dan zat besi yang dibutuhkan bayi laki-laki usia 6 bulan tidak tercukupi dengan makanan tersebut, dan ini belum termasuk kebutuhan protein, lemak, vitamin, dll.

Dari beberapa penjelasan di atas, kita tahu panduan MP-ASI menurut WHO adalah yang paling tepat. Di samping itu, metode MP-ASI dari WHO telah dipakai oleh Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI)[4]. Jadi Moms, yuk beri anak kita menu MP-ASI yang tepat sehingga kita bisa mencegah stunting pada anak kita.